Text
Pecinaan Semarang
Aku memang membenci matematika.rnrnDengan semua kerumitan logikanya, siapa yang tak berpotensi membencinya?rnrnDari dulu.rnrnHari sebelum kemarin.rnrnKemarin.rnrnHari ini, sekarang.rnrnDan sampai sesudah hari ini pun, mungkin aku akan tetap membencinyarnrnApa sih sebab mendasar kita membenci matematika?rnrnMemikirkan ulangan matematika yang bisa bikin kepala cenat-cenut?rnrnAtau rumus-rumusnya yang seabrek bin njelimet bikin kening berkerut-kerut?rnrnApa itu karena guru killer yang justru bikin kita galau akut?rnrnPadahal jika kita bisa memahami sebab mendasar yang menjadi alasan kita tidak suka, kebencian itu pun dapat bermetamorfosis menjadi cinta seperti yang dialami oleh salah seorang matematikawan terpintar di dunia. Itu juga yang terjadi dalam kisah-kisah di buku ini: tak ada kebencian abadi untuk matematika jika kita dapat mengelolanya.rnrnBuku ini tidak hanya untuk para siswa, tetapi juga untuk guru, orangtua, mentor atau siapa pun yang tertarik pada matematika. Mereka bisa banyak belajar, berevaluasi diri, dan berkaca pada kisah-kisah yang dialami para penulis yang kesemuanya berhubungan dengan matematika. Seperti kisah ketertarikan penulis terhadap matematika, kiat-kiat mengajar dan belajar matematika yang menyenangkan, serta berbagai hal menarik yang mungkin luput dari perhatian kita—walaupun sering kita alami dalam detik kehidupan kita bersama matematika.rnrnPada akhirnya kita tidak dapat mengelak, bahwa dalam kebencian terhadap matematika itu sebenarnya kita memendam kecintaan terhadapnya.
Tidak tersedia versi lain